MEMINTA Jabatan atau mencalonkan diri
dalam etika politik merupakan hal lumrah. Padahal Islam melarang keras
perbuatan yang berakar dari budaya Barat ini. Hadits berikut memberikan penjelasan
secara gamblang bagaimana sesungguhnya Islam memandang sebuah jabatan yang
telah menjadi simbol status sosial ini.
Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radliallahu
'anhu: "Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta
kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya,
niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong)."
niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong)."
Hadits ini
diriwayatkan Al-Imam Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146 dengan
judul “Siapa yang tidak meminta jabatan, Allah akan menolongnya dalam
menjalankan tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang minta
jabatan akan diserahkan kepadanya (dengan tidak mendapat pertolongan dari Allah
dalam menunaikan tugasnya)”. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim
dalam Shahih-nya no. 1652 yang diberi judul oleh Al-Imam Nawawi “Bab
larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.
Masih
berkaitan dengan permasalahan di atas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar Al
Ghifari radliallahu 'anhu. Ia berkata: "Wahai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, tidakkah engkau menjadikanku sebagai
pemimpin?" Mendengar permintaanku tersebut, beliau menepuk pundakku
seraya bersabda: "Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara
kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi
kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan
menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut." (HR.
Muslim no. 1825)
Dalam riwayat
lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai
Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang
kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan
jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim." (HR.
Muslim no. 1826)
Al-Imam Nawawi
rahimahullah membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab
beliau Riyadhus Shalihin, bab “Larangan meminta jabatan
kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak
pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan.”
Menjadi
seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang
kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah. Mayoritas orang justru
menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan lambaian
rupiah (uang dan harta) dan kesenangan dunia lainnya.
Sungguh benar
apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika
beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu
'anhu: "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap
kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan." (HR.
Bukhari no. 7148)
Wajar kalau
kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau 'calon
pemimpin' di bidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan
membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau 'sekedar'
uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya masa
pencalonan atau kampanye, dan sebagainya. Bahkan yang ekstrim, ia pun siap
menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan
kursi kepemimpinan tersebut. Atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam
daging yang dapat menjegal keinginannya meraih posisi tersebut.
Berkata Al Muhallab
sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): "Ambisi
untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia
untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta,
dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya
diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan
bumi."
Seseorang yang
menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan
bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan adzab. Allah subhanahu wa
ta`ala berfirman: "Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk
orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula
membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang
bertakwa." (Q.S. Al-Qashshash: 83)
Al-Hafidz Ibnu
Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan: "Allah
Ta`ala mengabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang
tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang
beriman, yang tawadhu` (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka
bumi yakni tidak menyombongkan diri di hadapan hamba-hamba Allah yang lain,
tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak
membuat kerusakan di tengah mereka." (Tafsir Ibnu Katsir,
3/412)
Berkata Syaikh
Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Seseorang yang meminta
jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia,
menguasai mereka, memerintahkannya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang
demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan
bahagiannya di akhirat. Oleh karena itu dilarang seseorang untuk meminta
jabatan.” (Syarh Riyadlus Shalihin, 2/469)
Sedikit sekali
orang yang berambisi menjadi pimpinan, kemudian berpikir tentang kemaslahatan
umum dan bertujuan memberikan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan
kepemimpinan yang kelak bisa ia raih. Kebanyakan mereka justru sebaliknya,
mengejar jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Program perbaikan
dan janji-janji muluk yang digembar-gemborkan sebelumnya, tak lain hanyalah
ucapan yang manis di bibir. Hari-hari setelah mereka menjadi pemimpin lah yang
kemudian menjadi saksi bahwa mereka hanyalah sekedar mengobral janji kosong dan
ucapan dusta yang menipu. Bahkan yang ada, mereka berbuat zalim dan aniaya
kepada orang-orang yang dipimpinnya. Ibaratnya ketika belum mendapatkan posisi
yang diincar tersebut, yang dipamerkan hanya kebaikannya. Namun ketika
kekuasaan telah berada dalam genggamannya, mereka lantas mempertontonkan apa
yang sebenarnya diinginkannya dari jabatan tersebut. Hal ini sesuai dengan
pepatah; “musang berbulu domba”. Ini sungguh merupakan perbuatan yang
memudharatkan diri mereka sendiri dan nasib orang-orang yang dipimpinnya.
Betapa rakus dan semangatnya orang-orang yang
menginginkan jabatan ini, sehingga Rasullah shallallahu alaihi wasallam
menggambarkan kerakusan terhadap jabatan lebih dari dua ekor serigala yang
kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing. Beliau bersabda: “Tidaklah
dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak
daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya disebabkan ambisinya untuk
mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. Tirmidzi no.
2482, dishahihkan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahihul Musnad, 2/178).
Wallahu a'lam bhissowab.
Wallahu a'lam bhissowab.