ramayana dan nuklir!!!


perang Mahabharata  pada  masa   India   kuno  kemungkinan besar  merupakan
sebuah   perang   berteknologi   tinggi   semacam   perang   nuklir.   Bukti-bukti
kerusakan akibat perang itu menunjukkan hal itu.
Mahabharata,  adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta,
yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan
takhta kerajaan. Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang
ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini  sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun.
Fakta sejarah yang dicatat  dalam buku  tersebut,  masanya  juga  lebih awal  2.000  tahun
dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya
hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.
Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang
hidup di tepian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan
Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu
dahsyat? Dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki
kekuatan yang begitu besar.  Spekulasi  baru dengan berani  menyebutkan perang yang
dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir!
Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang
gagah berani,  duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan
mendarat di  tengah air,   lalu meluncurkan Gendewa,  semacam senjata yang mirip rudal,
roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah
musuh,   seperti   hujan   lebat   yang   kencang,  mengepungi  musuh,   kekuatannya   sangat
50
Pdahsyat.  Dalam  sekejap,  sebuah bayangan yang  tebal  dengan cepat   terbentuk di  atas
wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan
menjadi   tidak   berfungsi,   kemudian   badai   angin  yang   dahsyat  mulai   bertiup,  wuuus....
wuuus....,  disertai  dengan debu pasir,  burung-burung bercicit  panik...  seolah-olah  langit
runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang
mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang,
di  kawasan darat  yang  luas,  binatang-binatang mati   terbakar  dan berubah bentuk,  air
sungai  kering kerontang,   ikan udang dan  lainnya semuanya mati.  Saat   roket  meledak,
suaranya bagaikan halilintar,  membuat  prajurit  musuh terbakar bagaikan batang pohon
yang terbakar hangus.
Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat
serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan
racun debu radioaktif.
Gambaran   yang dilukiskan  pada  perang dunia   ke-2   lebih membuat  orang berdiri  bulu
romanya   dan  merasa   ngeri:   pasukan   Alengka   menumpangi   kendaraan   yang   cepat,
meluncurkan   sebuah   rudal   yang   ditujukan   ke-3   kota   pihak  musuh.   Rudal   ini   seperti
mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari,
kembang api  bertebaran naik ke angkasa,  sangat  indah.  Mayat yang terbakar,  sehingga
tidak bisa dibedakan,  bulu rambut dan kuku rontok terkelupas,  barang-barang porselen
retak,  burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi.  Demi  untuk menghindari
kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.
Spekulasi perang Mahabharata sebagai perang nuklir diperkuat dengan adanya penemuan
arkeologis.   Para   arkeolog  menemukan   banyak   puing-puing   yang   telah  menjadi   batu
hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas.
Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini  dilekatkan  jadi satu,  permukaannya menonjol
dan cekung tidak merata.  Jika  ingin melebur bebatuan tersebut,  dibutuhkan suhu paling
rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada
ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.
Di  dalam hutan primitif di  pedalaman  India,  orang-orang  juga menemukan  lebih banyak
reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan
luar   perabot   rumah   tangga   yang   terbuat   dari   batuan   di   dalam  bangunan   juga   telah
dikacalisasi.  Selain di  India,  Babilon kuno, gurun sahara,  dan guru Gobi  di  Mongolia  juga
telah   ditemukan   reruntuhan   perang   nuklir   prasejarah.   Batu   kaca   pada   reruntuhan
semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.
Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, kita bisa
mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada
5.000  tahun  silam,  bahkan mengetahui   cara menggunakan  reaktor  nuklir,  namun oleh
karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-
wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.
Sebagai  perbandingan,  reaktor nuklir pada 2 miliar tahun silam pernah dimanfaatkan di
Oklo, Afrika Selatan.  Manusia dapat memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai,  sekaligus
memanfaatkan topografi alam menimbun limbah nuklir, peradaban materiil taraf tinggi ini
jelas dikembangkan melalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu
tahun,  mewakili  perdamaian dan kemakmuran 500 ribu tahun.  Kalau tidak,  penggunaan
51senjata nuklir yang saling menyerang seperti wiracarita yang dilukiskan dalam peradaban
India kuno,  mungkin  jika  tidak hancur  dalam 50  tahun,  akan mengalami  penghancuran
dengan sendirinya!
Teknologi reaktor nuklir pada manusia modern baru beberapa dasawarsa saja ditemukan,
hanya   demi   masalah   limbah   nuklir   saja   telah   berdebat   tiada   henti,   apalagi
memperdebatkan   yang   lainnya,   kita   benar-benar  harus  merasa  malu   dengan  manusia
zaman prasejarah untuk hal seperti ini.